0

[Book Review] Fantastic Beasts and Where to Find Them (Hewan-Hewan Fantastis & di Mana Mereka Bisa Ditemukan

dtinta-1497333645022

Judul:  Fantastic Beasts and Where to Find Them

Subjudul: Hewan-Hewan Fantastis & di Mana Mereka Bisa Ditemukan

Penulis: Newt Scamander (Pseudonym), J.K. Rowling

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 88 halaman

Terbit: February 2002

Blurb:

Hampir setiap rumah para penyihir di seluruh negeri pasti memiliki satu eksemplar buku Fantastic Beasts and Where to Find Them atau Hewan-Hewan Fantastic dan di Mana Mereka Bisa Ditemukan. Kini hanya untuk waktu terbatas, Muggle juga mendapat kesempatan untuk mengetahui di mana asal Buckbeak si Hippogriff, bahwa Naga Punggung Bersirip Norwegia (bangsanya Bayi Norbert) pernah memangsa ikan paus, dan bahwa Pixie yang pernah membuat Profesor Lockhart ketakutan setengah mati sebenarnya sangat menggemari lelucon-lelucon konyol.

Baiklah, sebut saja ini … buku fiksi rasa nonfiksi. Membaca buku ini rasanya seperti baca buku nonfiksi. Padahal isinya fiktif semua. Termasuk nama penulisnya. 😀

Buku ini aslinya ditulis oleh JK Rowling, tapi di sini tertulis Newt Scamander. Jadi, konsepnya adalah ini merupakan buku pelajaran milik Harry Potter. Maka selayaknya buku pelajaran, buku ini disajikan dengan gaya bahasa yang baku dan teoretis. Lengkap dengan catatan kaki. Sebagaimana buku pegangan anak sekolahan pada umumnya gitulah.

Selain memaparkan tentang hewan-hewan fantastis dan di mana mereka bisa ditemukan, hal menarik lainnya dari buku ini adalah coretan-coretan dari Harry dan Ron di “buku pelajaran” mereka ini.

(gambar menyusul yak, nanti saya fotoin :D)

Pokoknya, buku ini unik dan kece habis! Sungguh, luar biasa imajinasi Tante JK Rowling. Terakhir, izinkan saya mengutip pesan Profesor Dumbledore dalam kata pengantar di buku ini:

“Draco dormiens nunquam titilandus!” (Jangan mengusik naga yang sedang tidur)

0

[Book Review] The Sweet Sins

IMG_20170613_124314

Judul:  The Sweet Sins

Penulis: Rangga Wirianto Putra

Editor: Ratna Mariastuti

Penerbit: Diva Press

Tebal: 428 halaman

Terbit: Oktober 2012

“Jangan pernah mengingkari cinta karena cinta adalah salah satu dari rahmat Tuhan yang paling besar yang Dia turunkan ke dunia. Karena cintalah manusia ada sejak dahulu, sekarang, dan untuk masa yang akan datang.” (hlm 180)

Pertama kali baca buku beginian, dan mungkin untuk terakhir kalinya. :))

Mulanya karena kemarin saya sempat dilanda bosan baca novel cinta-cintaan yang ceritanya sudah terlalu umum. Lalu, teman saya menyodorkan buku ini. Katanya, cerita cinta di novel ini beda, tidak umum.

Memang beda, sih. Tapi….

Novel ini bercerita tentang Rei, seorang anak broken home yang kehilangan sosok ayah sejak masih kecil. Saat dewasa, dia bergaul dengan sahabat-sahabat yang juga memiliki pengalaman hidup dan pergaulan yang sama ruwetnya, menjadi gigolo, hingga bertemu dengan Ardo yang akhirnya menjadi “kekasihnya”.

Sebenarnya, kisah cinta Ardo dan Rei ini bisa dibilang cukup sweet. Ardo yang dewasa dan bijaksana banget, dan Rei yang butuh sosok pengganti sang ayah. Mereka jadi pasangan yang cocok dan saling melengkapi satu sama lain. Plus, ending kisah mereka yang nyesek, modal yang cukup untuk mengobrak-abrik perasaan.

Sayangnya, saya gagal baper setiap mengingat mereka ini sesama laki-laki. Alih-alih baper, saya justru pening. Apalagi, beberapa bagian di novel ini juga terlalu blak-blakan menggambarkan kemesraan antara Ardo dan Rei, sehingga terpaksa saya skip demi kewarasan jiwa. Saya berhasil menuntaskan membaca buku ini setelah tersaruk-saruk, sambil nahan pening dan mual, serta beberapa kali skip ketika sudah menjurus ke adegan berbahaya. :))

Dua bintang untuk buku ini. Bukan karena buku ini buruk (takut dikeroyok penggemar novel ini, wkwk), melainkan karena saya tidak bisa menikmatinya. Mungkin karena ini memang bukan bacaan yang cocok untuk saya, jadi sayanya nggak becus bacanya.

Maka, sebagaimana keterangan di Goodreads, 2 bintang berarti “it was ok“.

0

Membaca Lagi Karya Andrea Hirata: Ulasan Singkat Novel Sang Pemimpi

 

​”Tanpa mimpi, orang-orang seperti kita akan mati.” — Arai, Sang Pemimpi

Pertama kali berkenalan dengan karya Andrea Hirata pas zaman kuliah. Waktu itu sahabat saya menyodorkan novel Laskar Pelangi kepada saya. Biar makin semangat, katanya. Dan, benar. Saya langsung suka dan ingin membaca buku-buku berikutnya.

Saya sudah membaca keempat buku dari tetralogi Laskar Pelangi, plus dwilogi Padang Bulan. Semuanya istimewa. Namun kalau boleh memilih, yang paling berkesan untuk saya adalah Sang Pemimpi.

Sederhana, tapi memesona. Itulah kesan yang saya dapat saat membaca sekuel kedua dari tetralogi Laskar Pelangi ini. Sarat akan kisah-kisah tentang keluarga, persahabatan, serta perjuangan impian yang sangat menginspirasi.

Suka sekali dengan karakter tiga sahabat, Ikal, Arai, dan Jimbron yang warna-warni saling melengkapi. Ikal yang apa adanya, Arai yang selalu bersemangat, serta Jimbron yang lugu tapi mulia hatinya. Terbungkus dalam cerita yang lucu, hingga mengharu biru.

Membaca Sang Pemimpi, saya seolah diingatkan kembali pada apa yang tertera di dalam kitab-Nya. Bahwa sesungguhnya Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali mereka mengubah apa yang ada pada mereka sendiri (QS 13: 11).

Maka dari itu,

“Bermimpilah. Sebab Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.” — Arai, Sang Pemimpi.

Keterangan:

Judul: Sang Pemimpi
Penulis: Andrea Hirata
Penyunting: Imam Risdianto
Penerbit: Bentang Pusaka
Tebal: 292 halaman
Terbit: Juli 2006

0

[Book Review] Sing-Py, Single Happy: Buat Apa Dobel Tapi Nyakitin, Kalau Bisa Single Tapi Bahagia

IMG_20170529_161200_942

Judul:  Sing-Py, Single Happy

Penulis: Dewi Dedew Rieka

Penerbit: Loveable

Tebal: 212 halaman

Terbit: September 2015

Apa yang salah sih jadi jomblo. Ya, memang dia ke mana-mana sendirian. Bareng ransel doang. Tapi, rasanya asyik-asyik saja. Nggak ada yang ngintilin melulu atau cerewet nanya, kamu di mana? Dengan siapa? Melakukan apa? – hlm. 136

Rania, seorang janda kembang yang trauma disakiti pria. Ia lalu membangun sebuah kos-kosan dengan misi tertentu, yaitu mendidik cewek-cewek agar tidak mudah tergoda oleh rayuan cowok. Maka, berdirilah Kos Jomblo. Sebuah kos-kosan putri yang murah meriah dan nyaman, tapi syaratnya harus jomblo. Peminat kos pun menumpuk, sehingga Rania harus melakukan seleksi. Akhirnya, terpilihlah 10 orang penghuni Kos Jomblo yang memiliki karakter warna warni.

Yang seru, meskipun syarat tinggal di Kos Jomblo adalah harus jomblo, tapi isi cerita di buku ini nggak jauh-jauh dari pedekate, pacaran, friendzone, dll. 😀 Mulai dari Hanna dan Vanessa yang sama-sama naksir Athalla, Roro yang pingsan di pernikahan sang mantan terindah, Hanna yang dimanfaatkan sama penulis idola, Kidung yang TTM-an, Tahlia yang pacaran sama playboy, Gani si maniak kuis yang jatuh cinta sama adik laki-laki ibu kos, Gillian si abege yang populer di kalangan cowok-cowok di sekolahnya, dan bermacam permasalahan cewek lainnya.

Secara konten, buku ini lucu, seru, koplak. Sayangnya, editingnya gengges alias ganggu banget, deh. Bayangkan, lagi asyik baca tiba-tiba bingung karena penulisan nama tokoh yang sering keliru, ada typo, tanda baca yang salah, dialog yang saling bertubrukan di satu paragraf (sebaiknya kalau beda tokoh, dienter aja biar nggak bingung), dan ada adegan yang terbalik susunannya.

Di halaman 52 si Vanessa bilang, “Tapi kamu cocok dipanggil Dudung. Tonjokanmu dahsyat.” Tapi, baru di halaman 53 ada adegan Kidung nonjok si Vanessa-nya. Bingung deh, saya.

Mengabaikan editing yang mengganggu, isi dari buku ini sangatlah menghibur. Ada-ada saja kelakuan para jones di buku ini. Buku ini seolah hadir untuk memberikan dukungan kepada para manusia lajang bahwa ….

“Jadi jomblo itu nggak mengerikan, karena jomblo itu bebas merdeka. Meski terhalang dompet tipis di tanggal tua.” – hlm. 81 😀

PS: Terima kasih pemberian bukunya, Mas Dion. 🙂

0

[Book Review] 8… 9… 10… Udah Belom?!

dtinta-1497061629782

Judul:  8… 9… 10… Udah Belom?!

Penulis: Laurentia Dermawan

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 208 halaman

Terbit: Juli 2008

Blurb:

Sewaktu masih kanak-kanak, Nesya dan Vino adalah teman sepermainan. Saat mereka bermain petak umpet dan Nesya bersembunyi, Vino malah pulang dan tidak muncul-muncul lagi. Sendirian dan ketakutan, Nesya terus bersembunyi, hingga akhirnya ditemukan oleh Mike.

Sepuluh tahun kemudian, Vino dan Nesya bertemu kembali. Vino tetap ingat pada Nesya, tapi Nesya tidak mengenali Vino. Ya, dua bulan sebelumnya Nesya mengalami kecelakaan bersama Mike, kekasihnya. Mike meninggal dunia, dan Nesya amnesia.

Vino jatuh cinta pada Nesya dan ingin membantu Nesya mengingat masa lalunya. Tapi setelah Vino tahu bahwa Nesya pacar almarhum Mike, sahabatnya sendiri, Vino malah ingin menutupinya. Vino ingin Nesya hanya mencintainya, tanpa mengingat kenangan akan Mike.

Dulu, saat Vino meninggalkan Nesya, Mike-lah yang menemukannya. Dan kini, saat Mike meninggalkan Nesya, akankan Vino yang mengisi hari-hari Nesya?

Baiklah, jadi yang namanya teenlit itu nggak jauh-jauh dari:

  1. Kapten basket/cowok cakep banget yang digilai banyak cewek di sekolah.
  2. Cewek populer beserta gengnya yang selalu menganiaya siapa pun yang coba-coba dekat dengan si cowok idola.
  3. Cewek enggak populer dan sahabatnya, yang sebelumnya selalu berseteru dengan si cowok idola tapi berakhir saling jatuh cinta.
  4. Anak-anak berangkat sekolah dengan mengendarai mobil sendiri.
  5. Tokoh orang tua yang jarang muncul. Seolah di dalam cerita itu anak-anak remaja pada pusing memecahkan masalah mereka sendiri (yang kadang masalahnya itu amat pelik, lebih pelik dari masalah orang dewasa mikirin jodoh #eh).
  6. Plus, meski nggak selalu, tapi sering, ada adegan tragis seperti sakit keras atau kecelakaan yang berujung salah satunya meninggal dunia atau amnesia.

Sebenarnya saya sudah mulai bosan baca cerita-cerita mainstream ala novel teenlit, sebab memang sudah bukan masanya (ingat umur, woy!). Tapi, buku ini sudah ada di tumpukan buku-buku yang belum terbaca sejak lama. Dan saya harus bertanggung jawab untuk membaca buku-buku yang sudah saya beli. Sialnya, dulu saya suka banget dengan genre ini. Jadi, buku-buku semacam ini ada lumayan banyak yang tertimbun menunggu pertanggungjawaban untuk dibaca. (T____T)

Catatan untuk novel ini:

  1. Judulnya unik. Bisa dibilang, ini salah satu daya tarik dari buku ini.
  2. Covernya bagus. Manis. Sangat remaja.
  3. Ceritanya terlalu umum.
  4. Dialognya… banyak umpatan, hmm… nggak tahu juga sih pergaulan remaja zaman sekarang gimana. Tapi, saya kurang sreg aja dengan tokoh-tokoh remaja di dalam novel ini yang sering bilang “Lo gila!”, “Lo bego”, “Tolol”, dan sebagainya. 😦
  5. Ada beberapa bagian yang nggak logis. Memang ini fiksi, tapi kan kalau nggak logis jadinya ngganjel juga. 
  6. Last, mungkin kalau saya baca ini waktu masih SMP, saya bakalan terharu juga dengan kisah Nesya – Vino – Mike itu.

Tapi, ini bukan buku yang jelek, sih. Saya pernah menemukan yang lebih parah dari ini. Jadi, kalau kemarin saya rada bosan waktu membaca buku ini, barangkali karena genre ini bukan lagi bacaan yang tepat untuk saya. 🙂

0

[Book Review] CNBLUE: Code Name Blue

CNBlue

Gambar diambil dari goodreads.com

Judul: CNBlue

Penulis: Mirai

Penerbit: Elex Media Komputindo

Tebal: 64 halaman

Terbit: 31 Juli 2013

Baca buku ini dalam rangka kangen-kangenan sama CNBlue yang baru saja comeback setelah hampir setahun vakum. 😀 Saya kenal CNBlue jauh sebelum kenal EXO dan bahkan BTS. Sebagai Kpopers multifandom, saya tidak bisa tidak memasukkan mereka ke dalam daftar grup favorit saya. Alasannya? Ya, karena mereka keren. :))

CNBlue membawakan format yang berbeda di dunia per-Kpop-an. Kalau umumnya Kpop identik dengan boyband berisi sekumpulan cowok cakep yang nyanyi sambil dance, CNBlue muncul dengan format band. Jadi, masing-masing personelnya memainkan alat musik, menciptakan lagu mereka sendiri, dan tidak ada lagi perdebatan di antara fans terkait idolnya nyanyi live atau lipsing, sebab sudah pasti mereka live sambil ngeband.

Nama CNBlue sendiri merupakan singkatan dari Code Name Blue. Dan Blue, adalah singkatan dari karakter masing-masing personel, yaitu Burning Lee Jong Hyun (gitaris), Lovely Kang Min Hyuk (drummer), Untouchable Lee Jung Shin (basist), dan Emotional Jung Yong Hwa (gitars merangkap lead vocal).

CN-Blue-soompi

Sumber gambar: m.synnara.co.kr

Selain CNBlue, sebenarnya ada lagi, sih, grup lain yang juga pakai format band begini, yaitu FTIsland. Tapi, musik yang dibawakan FTIsland agak-agak nge-rock gitu. Jadi, saya kurang cocok, dah. Saya lebih suka CNBlue yang lagu-lagunya easy listening. Bahkan, saking sukanya sama CNBlue, dulu komputer di kantor sempat saya beri nama Minhyuk. Sebelum akhirnya komputer itu sering eror dan kudu diinstal ulang, lalu namanya saya ganti jadi Bedjo dan nggak pernah eror lagi sampai sekarang. Wk wk wk

Btw, ini saya review apaan, sih. Malah ngaco begini. Intinya, buku ini lumayan untuk dijadikan sebagai pengobat rindu. Yang ngaku Boice mestinya punya, nih. Saya aja punya, loh. Ya… meskipun fakta-fakta CNBlue yang terangkum di buku ini kebanyakan saya sudah tahu, sih. Tahu dari Google. :))

 

4

Korespondensi Era: Terlalu Manis untuk Dilupakan

Menemukan harta karun ini waktu beres-beres. Seneng banget masih mengalami masa ini, SURAT-SURATAN! 😀 *ketahuan angkatannya* Waktu itu, belum ada smartphone atau medsos, jadi salah satu cara untuk tetap keep contact dengan teman-teman adalah dengan saling berkirim surat. Selain dengan teman-teman sekolah, dulu saya juga sempat punya sahabat pena. Kalau nggak salah ingat, dari Majalah Bobo atau Tabloid Fantasi. Ini saya fotoin beberapa, karena berbagi kenangan manis itu menyenangkan. 🙂

IMG_20170605_114024

Beberapa surat jadul. Rata-rata dari teman-teman SD dan SMP. Teman SMA, kuliah, dan seterusnya nggak ada. Karena memang sudah beda zaman. 😀

Dari kiri – kanan:

  • Gambar pertama: kartu ucapan “Selamat Lebaran” dari teman SD saya. Ini dikirimnya waktu kami sudah SMP. Beberapa surat yang saya temukan kebanyakan dari dia, sih. Sekadar curhat atau bertukar pernak-pernik Westlife. Oh ya, waktu itu kami juga sering nulis surat pakai bahasa Inggris. Pede banget, meski ejaan berantakan. Lol!
  • Gambar kedua: surat dari teman SMP saya. Dikirimnya pas kami sudah SMA. Ini surat paling puanjanggg… yang saya terima. Sampai berlembar-lembar. Di surat itu dia cerita macam-macam. Termasuk cerita tentang salah satu kawan kami, Fornila, yang nggak bisa lanjut sekolah karena sakit. Tak lama setelah saya terima surat ini, kami dapat kabar bahwa Fornila telah meninggalkan kami untuk selamanya. 😦 (Al-Fatihah…)
  • Gambar ketiga: surat dari teman SMP yang lainnya. Dilihat dari tahunnya, kayaknya saya terima surat ini pas sudah kuliah. Mungkin waktu itu saya belum punya nomor handphone-nya, jadi saya kirimi dia surat. Dan mungkin juga, di surat, saya curhat kalau akhirnya saya masuk jurusan Sastra Indonesia karena nggak keterima di Sastra Inggris. 😀 Di surat balasannya, dia menyarankan saya untuk kuliah sambil kursus bahasa Inggris. Hahaha
  • Last, melipat surat juga ada seninya.

Meski tak sepraktis berkomunikasi dengan whatsapp, tapi surat-suratan begini sangat menyenangkan. Asyiknya merangkai kata, lalu harap-harap cemas menanti surat balasan, tentu tak bisa digantikan dengan ratusan chat di sosial media. Di samping itu, kita juga masih bisa membacanya lagi dan lagi meskipun zaman sudah berganti. 😀