0

Laper Mata di MocoSik: Books and Music Festival

dscf4241

Yogyakarta barangkali menjadi salah satu kota yang sering dijadikan tempat terselenggaranya event pameran buku. Hampir setiap tahun, para pencinta buku akan dimanjakan oleh adanya bookfair dengan beragam tema yang diusungnya. Mengawali tahun 2017 kali ini, hadir sebuah acara bertajuk “MocoSik”. Dalam bahasa Jawa, “moco sik” dapat diterjemahkan menjadi “membaca dulu”. Sebagaimana acara-acara buku pada umumnya, secara garis besar MocoSik memang bertujuan untuk terus menghidupkan kegemaran membaca di masyarakat.

Namun demikian, acara ini sedikit berbeda jika dibandingkan dengan pameran buku biasanya. Dengan mengusung tagline “Membaca Musik, Menyanyikan Buku”, acara ini mencoba menggabungkan antara festival musik dan pameran buku. Sebuah konsep yang cukup unik dan konon merupakan pertama kalinya di Indonesia. Jadi selain memanjakan para pencinta buku, acara ini juga dapat menyenangkan hati para penikmat musik.

Ada beberapa musisi kenamaan yang tampil dalam acara ini. Sebut saja, Tompi, Raisa, Glenn Fredly, Jogja Hip Hop Foundation, Shaggydog, dan masih banyak lagi. Untuk dapat menikmati penampilan mereka, tentu saja kita harus membeli tiket. Namun, jangan bayangkan kalau tiket yang kita beli ini seperti tiket pada umumnya. Tiket di sini adalah berupa buku.

Cukup dengan membeli buku seharga 50 ribu, kita bisa nonton pertunjukan musik dari para musisi kenamaan. Ada banyak buku pilihannya. Lucu, ya. Kalau dipikir-pikir, nothing to lose. Kita seperti beli tiket festival musik gratis buku. Atau, beli buku bonus nonton festival musik.

Beli buku tiketnya di sini, ya.…

img_20170214_133858

Di samping beragam pilihan buku tiket, ada pula buku-buku keren yang dipamerkan dan cukup mampu membuat saya jadi laper mata. Ada beragam judul buku dengan berbagai tema, baik fiksi maupun nonfiksi. Salah satu stan yang cukup menarik perhatian adalah stan buku-buku lawas/langka. Buku-buku tersebut diobral dengan harga mulai dari 10 ribuan.

img_20170214_132214

Ada Lima Sekawan, buku zaman SD. 😀

img_20170214_133537

Dan sebagaimana acara buku yang lain, tidak afdal jika tak ada talkshow seputar kepenulisan. Pada waktu saya ke sana, tiga orang pembicara, Bapak Hernowo, Mahfud Ikhwan, dan Okky Madasari, sudah siap berbagi inspirasi seputar “Menulis Sebagai Sebuah Tanggung Jawab”.  Secara ringkas, apa yang yang disampaikan para pembicara pada waktu itu adalah bahwa menulis merupakan kegiatan menyampaikan ide dan gagasan kepada orang lain. Dengan demikian, ada sebuah pertanggungjawaban yang harus ditanggung seorang penulis atas tulisan-tulisannya. Maka dari itu, tidak boleh asal-asalan.

dscf4253

Kedengarannya serem, ya. Tapi, kalau kita yakin dengan apa yang kita tulis, tentu nggak perlu takut dengan tuntutan pertanggungjawabannya, dong. Itulah sebabnya perlu memperbanyak wawasan dan pengetahuan, sehingga tulisan kita dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu cara untuk memperbanyak wawasan adalah dengan membaca. Di samping itu, membaca juga dapat memperkaya kebahasaan kita, yang nantinya berguna juga untuk membantu proses menulis.

Seperti kata Mbak Okky, “Kemampuan bahasa adalah senjata utama dalam menulis. Dibutuhkan kemahiran dalam memilih dan memilah.”

Last, meskipun tidak berkesempatan nonton perform Raisa, tapi hari itu saya cukup puas karena mendapat banyak ilmu baru sekaligus cuci mata hunting buku-buku. \(^0^)/

#Bisa dibaca juga di blog Javalitera

0

Mengenang Si George yang Kesepian

Ya udah sih ya, Mblo… hidup ini seharusnya dibikin happy. Kamu baru jomblo berapa lama? Setahun? Tiga tahun? Lima tahun? Well, nasibmu masih lebih mujur kalau dibanding si George. Bayangkan, setelah betah menjomblo selama 100 tahun, sampai akhir hayatnya George tak berhasil menemukan pasangan. 😦

George siapa, sih?

Perkenalkan, nama resminya adalah “Chelonoidis nigra abingdonii”, seekor kura-kura raksasa asal Galapagos. Saat ditemukan, diperkirakan usianya sudah mencapai 100 tahun. Meski sudah berusia satu abad, George masih sangat sehat dan dapat berjalan dengan baik. Hanya saja, dia kesepian.

george

sumber gambar: republika.co.id

Saat ditemukan, George adalah satu-satunya yang tersisa dari spesiesnya. Para ilmuwan telah berupaya mencarikan kura-kura betina dari suspesies lain untuk menjadi pasangan George. Juga, untuk menyelamatkan spesies George dari kepunahan. Sayangnya, tidak ada satu pun kura-kura betina itu yang dapat cocok untuk George. Akhirnya, pada tanggal 25 Juni 2012, George ditemukan meninggal di Taman Nasional Galapagos. 😦

Dengan meninggalnya George, maka punah pula spesies kura-kura asal Pulau Pinta Galapagos itu. Orang-orang kini memanggilnya sebagai “The Lonesome George” atau “George yang Kesepian”.

Tuh, Mblo. Nggak usah baperan dan galau tak berkesudahan. Nasibmu masih lebih baik dibandingkan si George. Mending menikmati masa jomblo dengan melakukan hal-hal yang bisa menambah kualitas dirimu.

Eh, tapi … kalau kamu udah menjomblo selama hampir satu putaran gerhana, kayaknya emang kudu segera cari jodoh. #eh *kabur*

0

[#PosCintaTribu7e] 5/7 – Cinta pada Pandangan Pertama

​Untuk kamu di masa lalu,
Ingatkah kau pada perbincangan kita tempo dulu? Kala itu, kita sedang membahas tentang cinta. Cinta pada pandangan pertama, lebih tepatnya.

Well, cinta pada pandangan pertama? Ah, aku tak percaya. Bagiku, itu adalah hal yang hampir tidak mungkin terjadi. Cinta itu adalah sebuah energi. Energi yang tidak hanya berpengaruh terhadap fisik, melainkan juga psikis.

Cinta adalah sebuah energi yang memengaruhi fisik dan metal kita. Energi yang kemudian membuat kita merasa nyaman, rindu, butuh, dan pada akhirnya terciptalah sebuah perasaan yang utuh. Dengan kata lain, cinta perlu proses. Orang tidak mungkin jatuh cinta hanya dari sekali tatap muka. Kalaupun timbul rasa suka, barangkali itu hanya terpesona. Bukan jatuh cinta.

Cinta pada pandangan pertama itu tidak ada! Setidaknya, itu adalah opini yang aku percayai selama ini. Sebelum kamu mematahkannya.

“Hemm … coba jelaskan dengan bahasa sederhana teorimu yang ruwet tadi,” cibirmu. Aku hanya memutar bola mataku.

“Jadi begini, sekadar contoh saja, seorang wanita tidak akan semudah itu jatuh cinta jika prianya tidak mulai lebih dulu. Mereka memberi kode-kode, tanda-tanda, dan perhatian-perhatian khusus untuk mendekatinya. Lama-lama, si wanita akan merasa nyaman padanya, lalu lahirlah rasa rindu, butuh, dan sebuah cinta yang utuh.” Kuhela napasku sejenak. Hufftt… pembicaraan ini cukup membuatku engap juga ternyata. Barangkali karena aku terlalu bersemangat menyampaikan pendapatku. Sementara kamu, hanya diam menyimak sambil sesekali mengangguk.

“Sayangnya, sebagian pria kadang tidak bertanggung jawab terhadap perasaan wanita yang sudah dia bikin jatuh cinta,” ucapku final. Sedikit kesal.

“Hahaha … kok malah curhat?” ledekmu. Aku hanya memasang ekspresi datar.

“Oke, seluruh opinimu tadi mungkin benar. Termasuk curhat colonganmu itu, hehe. Namun untuk yang satu ini, aku yakin kau akan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat kau lihat senyumnya yang manis, pipinya yang tembam kemerahan, dan matanya yang berbinar manja,” ucapmu dengan tatapan menerawang entah ke mana.

“Ck … lebay.”

“Aku tidak lebay. Kalau kau tak percaya, ayo ikut aku menemuinya.”

“Aku tidak mau.” Aku keras kepala, kamu menggaruk kepala. Frustrasi.

“Hemm … kalau sekadar melihat fotonya, kau tidak keberatan, kan?” Kamu memberi penawaran.

“Boleh. Mana?”

Kamu lantas merogoh tas, kemudian mengulurkan selembar foto padaku. Tampak seorang anak perempuan super imut sedang tersenyum manis. Pipinya tembam kemerahan, dan matanya berbinar manja.

“Namanya Annaya. Murid kesayanganku di PAUD,” ucapmu bangga. Sementara aku, masih terpana menatapi foto bocah itu.

Ah, sial! Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan, ini semua gara-gara kamu!

Salam,
– Aku yang pernah tak percaya dengan cinta pada pandangan pertama –

6

​[#PosCintaTribu7e] 4/7 – Sir, Saya Masak Bandeng Balado

wp-1486806170879.png

Untuk Jodohku,
di mana pun kamu

Sir, saya masak bandeng balado. Tapi, ini gagal karena keasinan. 😩

Nggak ngerti kenapa kalau masak keasinan dikata sudah siap nikah. Padahal, itu justru menunjukkan kalau kita belum mahir masak. Nah terus, kalau kasih bumbu buat masakan aja masih nggak pas takarannya, gimana bumbu rumah tangga. Ea~ *apa sih*

Masakan saya ini contohnya. Selain keasinan, bandengnya remuk pas dibalik, trus ngulek cabainya kurang alus. Fail banget pokoknya. 😪

Tunggu, ya. Saya akan latihan lebih serius. Supaya nanti bisa bikinkan sambel buat kamu. Iya, kamu, Sir.

Ps: nguleg sambel itu pegel, Jenderal! 😎

0

[#PosCintaTribu7e] 3/7 – Surel untuk Tuan Pemilik Tulang Rusuk

quotes,wait-b36bd9b037d7d57ef36f92799cfbdb5b_h

From: Me

To: You, Sir

Subject: I Need You to Save Me, but You are About too Slow

Halo.

Apa kabar?

Ini kali kesekian aku tulis surat untukmu, Tuan. Maaf, kalau mengganggu kesibukanmu. Bukan tak sabaran, hanya ingin memastikan. Tak sampaikah rindu yang kutitipkan pada bait-bait doa di sepertiga malam itu? Kau tahu, betapa letih merayu-Nya seraya bertanya-tanya, “Kapan musim bunga akan tiba?”

Apakah kamu juga begitu? Atau, hanya aku yang selalu memunajatkan rindu?

Apa pun itu, semoga di sana kau juga sedang berusaha untuk menujuku. Sebab, aku tak akan ke mana-mana lagi. Di sini saja.

Menunggumu, sambil baca buku.

Sampai ketemu,

– Aku, yang diciptakan Tuhan dari tulang rusukmu –

0

[#PosCintaTribu7e] 1/7 – Apa Kabar, Kamu?

Apa kabar, kamu yang menjelma siluet di antara hitam dan biru pada langit pagi itu?

Maaf, aku tak menepati janji.
Kubilang ingin melepasmu pergi.
Tapi, aku menyapamu kembali.

Memang bukan rindu.
Atau rasa yang menggebu.
Hanya, kau selalu melintas di kepalaku.

Jadi, kalau kau tak mengizinkan aku untuk mengendap-endap masuk ke hatimu, maka berhentilah wara-wiri di pikiranku.

0

Pak Kijo: Ikhlas, Totalitas

img_20170220_140804.jpg

Dulu, saya selalu berpikir bahwa kerja itu bukan semata perkara mencari gaji. Ada kalanya kita ingin melompat ke tempat yang lebih tinggi. Pada waktu itu, saya sudah bekerja dengan aman dan nyaman. Namun, hati saya selalu gelisah ketika melihat teman-teman seperguruan (teman kampus maksudnya), yang bekerja di bidang sama tapi perusahaan berbeda. Di tempat kerjanya masing-masing, mereka sudah sangat jauh melesat. Sementara saya, hanya sibuk jalan tempat. Sayangnya, waktu itu saya belum punya cukup nyali untuk meninggalkan zona nyaman. Sampai akhirnya ketika satu per satu teman sekantor saya mengepak koper dengan alasan mereka sendiri-sendiri, saya pun tergerak untuk ikut beranjak pergi.

Di tempat kerja saya saat ini, banyak hal baru yang saya pelajari. Pun banyak teman baru dan orang-orang hebat yang saya temui. Namun demikian, betapa pun betahnya saya di kantor baru, saya juga mulai mengumpulkan rindu. Salah satunya adalah rindu kepada lelaki tua nan kalem dan rendah hati, Pak Kijo. Sosok seperti Pak Kijo inilah yang tidak akan saya temui di kantor baru.

Pak Kijo adalah OB di tempat kerja saya dulu. Lelaki paruh baya yang berangkat paling pagi dan pulang paling sore. Berangkat dengan mengayuh sepeda onthelnya untuk rutinitas harian: bersih-bersih, bikin teh, menyiapkan camilan, dan banyak lagi. Ketika temam-teman redaksi sering mengeluh karena ketatnya deadline, Pak Kijo tak pernah tampak mengeluh dengan pekerjaannya yang serba repot. Beliau melakukannya dengan ikhlas dan penuh totalitas. Tak jarang beliau menanyai kami satu per satu, apakah tehnya kurang manis atau kemanisan. Lebih dari itu, Pak Kijo bahkan hafal warna tutup gelas favorit kami. Waarrbyasak

Pak Kijo, barangkali memang berbeda dari saya yang pada waktu itu selalu gelisah galau karier dan selalu ingin pergi. Bagi beliau, yang terpenting adalah mendapat rezeki untuk nafkah anak istri. Lalu, beliau akan membalasnya dengan jasa semaksimal mungkin yang bisa dilakukannya. Atas sifatnya tersebut, tak heran bila kami semua menyayanginya.